Analisa Dan Identifikasi Amina, Asam Karboksilat

* The preview only display some random pages of manuals. You can download full content via the form below.

The preview is being generated... Please wait a moment!
  • Submitted by: cici angraini
  • File size: 1.2 MB
  • File type: application/pdf
  • Words: 2,011
  • Pages: 32
Report / DMCA this file Add to bookmark

Description

ANALISA DAN IDENTIFIKASI ASAM KARBOKSILAT, REAKSI ida Atriw ati w a r t s Sa ini r a g n Cici A Desy y an i a d n a H ni a r y u S Fitri Yap a i t n Juve ai Sara M ari Mia d n a ul W i r S

AMINA, KHUSUS

AMIN A

Definisi Amina Amina adalah turunan amonia yang satu atau lebih atom hidrogennya digantikan oleh gugus alkil atau senyawa karbon mengandung nitrogen.

Amina adalah basa lemah yang dapat mengikat proton (H+) membentuk garam amonium. Misalnya, trimetilamina bereaksi dengan asam membentuk kation trimetilamonium. (CH3)3N + H+ → (CH3)3NH+ Garam dari trimetilamonium lebih larut dalam air daripada amina yang sederajat. Reaksinya dapat digunakan untuk melarutkan amina lain dalam larutan air. Garam amonium dari senyawa amina berperan penting dalam obat-obatan yang tergolong daftar G (psikotropika). Misalnya, kokain dipasarkan berupa garam hidroklorida berbentuk kristal padat berwarna putih. Obat batuk dextromethorphan hidrobromine dibuat dalam bentuk garam amonium bromida.

Garam Hidroklorida

Senyawa Amina Senyawa amina tersusun oleh atom C, H dan N. Gugus fungsi amina dapat diketahui dari sifat basanya, amina alfalik sederhana larut dalam air dan akan memperlihatkan perubahan warna lakmus merah, selain itu sifat basa dari amina dapat diketahui secara sederhana dengan direaksikan dengan asam. Amina primer, sekunder, dan tersier dari rantai alifatik mudah larut dalam HCl encer. Untuk amina aromatik dengan satu cincin mudah larut dalam larutan 10% HCl tetapi dengan kenaikan cincin seperti diarilamina dan triarilamina tidak larut dalam amina.

Klasifikasi Amina Terdapat tiga jenis amina sesuai dengan jumlah atom H yang dapat digantikan oleh gugus alkil, yaitu 1. Amina primer (R–NH2) 2. Amina sekunder (R2– NH) 3. Amina tersier (R3–N)

Tata Nama Amina Tata Nama IUPAC (Sistematik)

Tata Nama Trivial

Penataan nama secara sistematis

Nama trivial untuk sebagian besar amina adalah dengan menyebutkan gugus-gugus alkil/aril yang terikat pada atom N dengan ketentuan bahwa urutan penulisannya harus memperhatikan urutan abjad huruf terdepan dalam nama gugus alkil/aril kemudian ditambahkan kata amina di belakang nama gugus-gugus tersebut.

(IUPAC), amina primer diturunkan dari alkana dengan menambahkan kata –amina. Nomor atom karbon terkecil diberikan kepada atom karbon yang mengikat gugus –NH2.

Conto h

Contoh

Sifat Fisika Amina Suatu Amina mengandung ikatan ikatan N–H dapat membentuk ikatan hydrogen dengan elektron sunyi dari oksigen atau nitrogen lain. Dari dua macam ikatan hidrogen, ikatan NH–N jauh lebih lemah daripada ikatan OH–O. Alasan mengapa terjadi perbedaan dalam kekuatan ikatan nitrogen kurang elektronegatif dibandingkan dengan oksigen, dan ikatan N–H dengan sendirinya kurang polar. Titik didih dari amina yang mengandung suatu ikatan N—H adalah ditengah-tengah antara alkana (tidak ada ikatan hidrogen) dan alkohol (ikatan hydrogen kuat). Titik didih amina yang mempunyai ikatan hidrogen lebih tinggi daripada amina yang yang tidak mempunyai ikatan hidrogen. Contoh: Trimetilamina mendidih pada temperature lebih rendah daripada etilmetil amina.

Sifat Kimia Amina Sifat kimia amina yaitu amina merupakan senyawa basa dan berinteraksi dengan air secara analog dan dalam larutan berair, molekul air mendominasi sebuah protein terhadap molekul ammonia yang menghasilkan pembentukan ion amonium dan ion hidroksida.

1.

Pembentukan Amina

Reaksi Subtitusi dari Alkil Halida Ammonia dan mengandung pasangan elektron sunyi pada atom nitrogen, oleh sebab itu, senyawa itu dapatbertindak sebagai nukleofil dalm reaksi subtitusi nukleofilik dari alkil halida. Reaksi dengan amonia menghasilkan garam dari amina primer. Bila garam amina ini direaksikan dengan basa akan dibebaskan amina bebas. Reaksi alkil halida dengan amina dan bukan amonia akan menghasilkan amin sekunder, tersier, atau garam amonium kuarterner, tergantung pada

Pembentukan Amina

Pembuatan Amina a. Pembuatan amina primer Untuk pembuatan amina primer, reaksi terjadi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama, terbentuk sebuah garam, dalam hal ini, etil amonium bromida. Garam ini sangat mirip dengan amonium bromida, kecuali bahwa salah satu atom hidrogen dalam ion amonium telah diganti oleh sebuah gugus etil. Dengan demikian, ada kemungkinan untuk terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran. Amonia mengambil sebuah atom hidrogen dari ion etilamonium sehingga menjadikannya amina

b. Pembuatan amina sekunder Reaksi di atas tidak berhenti setelah amina primer terbentuk. Etilamina juga bereaksi dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti reaksi sebelumnya. Pada tahap pertama, terbentuk sebuah garam – kali ini, dietilamonium bromida. Anggap garam yang terbentuk ini adalah amonium bromida dengan dua atom hidrogen yang digantikan oleh gugus-gugus etil. Lagi-lagi terdapat kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran tersebut, seperti diperlihatkan pada gambar berikut: Amonia mengambil sebuah ion hidrogen dari ion dietilamonium sehingga menjadikannya amina

c. Pembuatan amina tersier Setelah amina sekunder terbentuk, reaksi masih belum berhenti. Dietilamina juga bereaksi dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti pada reaksi sebelumnya. Pada tahapan pertama, terbentuk trietilamonium bromida. Lagilagi ada kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran tersebut, sebagaimana ditunjukkan berikut: Amonia mengambil sebuah ion hidrogen dari ion trietilamonium sehingga menjadikannya amina tersier, yakni trietilamin. Amina tersier adalah amina yang memiliki tiga gugus alkil terikat pada nitrogen.

Test Karakteristik Kimia Test karakteristik kimia yang dipakai untuk menunjukkan adanya senyawa amina yang larut dalam air dapat menggunakan larutan CuSO4 10%. Hasil tes ini positif bila terbentuk warna biru atau hijau kebiru-biruan. Untuk membedakan sub kelompok amina digunakan test Hinsberg. Test ini didasarkan pada reaksi amina primer dan sekunder dengan bensensulfonil klorida membentuk bensensulfonamida yang tersubstitusi.

Test Hinsberg Tes Hinsberg reaksi tes kimia untuk mendeteksi amina. Ini adalah tes yang sangat baik untuk membedakan amina primer, sekunder dan tersier. Dalam tes ini, amina dikocok dengan baik dengan Hinsberg reagen dengan adanya alkali berair (baik KOH atau NaOH). Sebuah reagen yang berisi larutan natrium hidroksida dan Benzenesulfonyl klorida encer ditambahkan ke substrat. Sebuah amina primer akan membentuk garam sulfonamide larut yang mengendap setelah penambahan asam klorida encer. Amina sekunder dalam reaksi yang sama akan langsung membentuk sulfonamide larut. Sebuah amina tersier tidak akan bereaksi dengan sulfonamide tetapi tidak larut. Setelah menambahkan asam encer amina larut ini diubah menjadi garam amonium larut. Dengan cara ini reaksi dapat membedakan antara tiga jenis amina.

ASAM KARBOKSILAT

Definisi Asam Karboksilat Asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil, –COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil; antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk asam karboksilat

Sifat – Sifat Asam Karboksilat 1)

- Asam alkanoat yang mengandung C1 sampai C4 berbentuk cairan encer dan larut sempurna dalam air. - Asam alkanoat dengan atom C5 sampai C9 berbentuk cairan kental dan sedikit larut dalam air. - Asam alkanoat suku tinggi dengan C10 atau lebih berbentuk padatan yang sukar larut dalam air. 2) Titik didih asam alkanoat lebih tinggi dibandingkan titik didih alkohol yang memiliki jumlah atom C yang sama.

3) Asam alkanoat pada umumnya merupakan asam lemah. Semakin panjang rantai karbonnya semakin lemah sifat asamnya. Contoh : HCOOH Ka = 1,0 . 10–4 CH3COOH Ka = 1,8 . 10–5 CH3CH2COOH Ka = 1,3 . 10–5 4) Asam alkanoat dapat bereaksi dengan basa menghasilkan garam. Reaksi ini disebut reaksi penetralan. CH3COOH + NaOH -------------> CH3COONa + H2O 5) Asam alkanoat dapat bereaksi dengan alkohol menghasilkan senyawa ester. Reaksi ini dikenal dengan reaksi esterifikasi. a) CH3COOH + CH3–OH ------------------> CH3COOHCH3 + H2O b) CH3CH2COOH + CH3CH2–OH -------------> CH3CH2COOCH3+H2O

Penamaan Senyawa Asam Karboksilat Tata Nama IUPAC mengikuti nama alkananya dengan menambahkan nama asam didepannya dan mengganti akhiran “ana” pada alkana dengan akhiran “anoat” pada asam alkanoat.

Tata Nama Trivial Penamaan yang didasarkan dari sumber penghasilnya.

Conto h:

Reaksi asam karboksilat Reaksi penetralan

Asam karboksilat bereaksi dengan basa membentuk garam dan air. Garam natrium atau kalium dari asam karboksilat suhu tinggi dikenal sebagai sabun. Sabun natrium disebut sabun keras, sedangkan sabun kalium disebut sabun lunak. Sebagai contoh, yaitu natrium stearat dan kalium stearat. Asam alkanoat tergolong asam lemah, semakin panjang rantai alkilnya, semakin lemah asamnya. Jadi, asam alkanoat yang paling kuat adalah asam format,

Reaksi Pengesteran

Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol membentuk ester. Reaksi ini disebut esterifikasi (pengesteran). Ester adalah esens yang berbau buah yang didapat dari proses kimia(reaksi alkohol dengan asam karboksilat, dengan katalis asam sulfat). seperti etil asetat (rasa pisang), amil asetat (jeruk), etil butirat strawberry).

Pembuatan Asam Karboksilat v Oksidasi alkohol primer v Oksidasi alkil benzen v Carbonasi Reagen Grignard v Hidrolisin nitril

REAKSI KHUSUS

 Reaksi Beilstein Kawat Cu dibersihkan dengan cara dibakar, kemudian kawat dicelupkan kedalam zat yang akan dianalisa dan kemudian dibakar, akan terbentuk nyala dengan warna hijau.  Calomel Reduksi Zat kering digerus dengan calomel, kemudian dilewatkan uap air, akan terbentuk warna abu-abu. Zat harus bebas alkali NH4OH, karena calomel dengan alkali memberikan warna hitam.  Reaksi Carletti Asam Oksalat + Resorcin + zat + H2SO4 pekat, terbentuk warna ungu merah. Pada reaksi ini zat harus kering, bebas air.  Reaksi Cuprifil Beberapa tetes zat + beberapa tetes CuSO4 1 % + NaOH berlebih , kocok. Endapan disentrifuge, saring. Larutan akan biru tua atau biru ungu jernih.

 Reaksi dengan PDAB • Reaksi Wassecky Zat + pDAB 1 bagian + H2SO4 conc. 3 bagian, akan memberikan warna-warna. • pDAB 0,125 dalam campuran H2SO4 conc. + air (sama banyak). Zat atau larutan encer zat + pereaksi dan sesepora FeCl3 + H2O2, terbentuk warna biru intensif. • Reaksi Erlich 1 % pDAB HCl dalam 0,4 N HCl. Zat + pereaksi, akan terbentuk warna  Reaksi Chen & jingga Kao Larutan 10 mg zat (basa atau garamnya) dalam air 1 ml + 1 tetes larutan garam cupri + 1 ml NaOH 4 N, terbentuk warna ungu. Kocok dengan eter, warna eter akan beubah menjadi ungu merah.  Reaksi Biuret Zat dilebur dengan NaOH + 1 tetes CuSO4 dilutus, terbentuk warna ungu atau biru tua.

 Reaksi Diazo • Reaksi untuk gugus amina aromatis primer 10 mg zat dalam 2 tetes HCl 2N + 1 ml air + 2 tetes Diazo B, tetesi dengan larutan β-Naftol dalam 2 cc NaOH, terbentuk warna jingga, lalu merah darah. • Reaksi pada gugus fenol yang belum terisi pada tempatnya Zat + 2 tetes HCl 2N + 2 tetes campuran Diazo A dan B (4:1) + NaOH hingga alkalis, terbentuk warna jingga/merah darah. • Reaksi King Zat (larutan garam alkaloida) + campuran Diazo A dan B (4:1) lalu tambahkan NaOH hingga alkalis, terbentuk warna merah intensif.  Reaksi Deniges Zat dilarutkan dalam air + pereaksi, lalu dinginkan. Tambahkan KMnO4, terjadi endapan rosa. Tambahkan asam oksalat untuk menghilangkan warna, sedangkan endapan putih tetap. Reaksi Fehling Zat ditambahkan Fehling A dan B sama banyak, dipanaskan beberapa menit, terbentuk warna kuning sampai merah bata.

 Reaksi Gutzeit Zat + Zn + HCl atau H2SO4 encer, didalam tabung reaksi bersumbat kapas yang telah dicelupkan dalam larutan Pb Asetat dan ditutup dengan kertas saring yang diberi kertas AgNO3 diatasnya. Reaksi positif jika kristal AgNO3 menjadi kuning lalu hitam.  Reaksi Indophenol 50 – 100 mg zat dalam tabung reaksi + 2 ml air, panaskan + 2 tetes NaOH + 2 ml larutan kaporit atau NaOCl dan 1 tetes phenol liquidum, akan terbentuk warna- warna.  Reaksi Iodoform Zat + NaOH atau NH4OH hingga alkalis + Sol Iod hingga kuning muda, panaskan, terjadi endapan kuning muda berkilat bau iodoform. Bila dikerjakan diatas object glass, terbentuk kristal seperti bintang.  Reaksi Korek Api Batang korek api dicelupkan kedalam zat yang telah dilarutkan dalam HCl dilutus, lalu basahi dengan HCl conc. Pada batang korek api akan terbentuk warna jingga sampai merah.

 Reaksi Murexide Zat + KClO3 atau 1 tetes H2O2 + beberapa tetes HCl 25 % panaskan pecan-pelan diatas penangas air hingga warna kuning jingga lalu dinginkan dan tiupkan uap NH4OH atau NH4OH encer, terbentuk warna ungu.  Reaksi Umbelliferon Zat + resorchin + H2SO4 conc, panaskan 1350C selama 5 menit, encerkan dengan air lalu basakan dengan NaOH, lihat dibawah sinar UV atau cahaya biasa, akan terbentuk warnawarna.  Reaksi Vitalli Zat + HNO3, panaskan pada penangas air hingga kering, tambahkan KOH dalam spiritus (alcohol), terbentuk warna ungu.  Reaksi Zwikker Zat dilarutkan dalam air + 4 ml CuSO4 10 % + 1 ml pyridine dan 5 ml air. Dinding gelas digores-gores agar terjadi kristal,cuci kristal dengan air + pyridine + spiritus 70 % + eter + asam encer lalu kocok dengan eter atau kloroform, terbentuk warna hijau, biru hingga ungu.

THANK YOU